26
Yogyakarta
– Keinginan untuk kembali dan berkontribusi membangun daerah asal menjadi
motivasi kuat bagi sejumlah generasi muda Papua dalam menentukan pilihan
pendidikan tinggi. Berangkat dari harapan tersebut, mereka memilih menimba ilmu
di Politeknik Agraria STPN, perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), guna membekali diri
dengan pengetahuan dan keterampilan di bidang pertanahan serta tata ruang.
Salah
satunya Alfando Almendo, Taruna Tingkat II asal Manokwari, Papua Barat. Ia
menilai Papua masih membutuhkan banyak sumber daya manusia yang memahami
persoalan agraria untuk mendukung pembangunan daerah di masa depan.
“Yang
saya pikirkan ketika memutuskan berkuliah di Politeknik Agraria STPN sederhana
saja, nantinya saya ingin terlibat membangun daerah saya. Papua masih
membutuhkan banyak pembangunan dan tentu membutuhkan sumber daya manusia yang
memahami bidang pertanahan dan tata ruang,” ujar Alfando Almendo.Menurut
Alfando, berbagai persoalan pertanahan yang masih ditemui di Papua menjadi
alasan dirinya tertarik mendalami ilmu agraria. Ia berharap pengetahuan yang
diperoleh selama pendidikan dapat menjadi bekal untuk berkontribusi dalam
penyelesaian berbagai persoalan tersebut ketika kembali ke daerah asal.
Selain
bidang keilmuan yang spesifik dan relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah,
Alfando juga mengaku mendapatkan banyak pengalaman melalui sistem pendidikan
berasrama yang diterapkan di Politeknik Agraria STPN. Baginya, lingkungan
pendidikan tersebut turut membentuk karakter, kedisiplinan, dan kemampuan
kepemimpinan.“Di sini kami tidak hanya belajar akademik, tetapi juga belajar
disiplin, kepemimpinan, dan hidup bersama dengan teman-teman dari seluruh
Indonesia. Ini menjadi modal penting untuk bisa bersinergi dengan teman-teman
dari banyak daerah untuk membangun Papua,” ucapnya.
Semangat
serupa dimiliki Rafael Korwa, Taruna Tingkat II asal Merauke, Papua Selatan.
Ketertarikannya terhadap peta sejak kecil membawanya mengenal dunia survei dan
pertanahan. Namun, selama menjalani pendidikan, ia menyadari bahwa bidang
tersebut memiliki peran yang jauh lebih luas dalam kehidupan masyarakat.“Dari
kecil saya memang suka melihat peta. Setelah mengetahui dan mempelajari bidang
pertanahan, saya jadi tahu bahwa ilmu ini sangat penting untuk membantu
menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat, termasuk masalah
sengketa tanah yang sering terjadi di lingkungan saya,” ungkap Rafael Korwa.
Menurut
Rafael, masih banyak masyarakat yang belum memahami hak atas tanah maupun aspek
hukum pertanahan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan generasi muda yang
memiliki kompetensi di bidang agraria menjadi semakin penting, khususnya di
wilayah dengan karakteristik pertanahan yang kompleks seperti Papua.“Harapannya
setelah lulus nanti saya bisa kembali dan membagikan ilmu yang saya dapatkan
kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat bisa lebih memahami hak-haknya dan
tidak mudah dirugikan dalam urusan pertanahan,” tuturnya.
Bagi
Alfando dan Rafael, pendidikan di Politeknik Agraria STPN bukan sekadar sarana
untuk meraih gelar, tetapi juga jalan untuk mempersiapkan diri menjadi bagian
dari pembangunan daerah asal. Keduanya berharap ilmu yang diperoleh dapat
memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua, khususnya dalam mewujudkan tata
kelola pertanahan yang lebih baik. Kisah mereka menunjukkan bahwa kebutuhan
akan sumber daya manusia yang memahami bidang agraria tidak hanya hadir di
pusat-pusat pembangunan, tetapi juga di daerah yang masih menghadapi berbagai
tantangan pertanahan dan tata ruang. Karena itu, kesempatan untuk mempelajari
bidang ini terbuka bagi generasi muda yang ingin mengambil peran dalam
pembangunan daerah melalui jalur pendidikan.
Bagi
lulusan SMA/sederajat yang tertarik mendalami bidang pertanahan dan tata ruang,
pendaftaran Taruna/Taruni Politeknik Agraria STPN masih dibuka hingga 18 Juni
2026. Informasi mengenai persyaratan, tahapan seleksi, dan tata cara
pendaftaran dapat diakses melalui situs resmi Politeknik Agraria STPN. (GE/JR)
0 Komentar